Loading...

Rabu, 19 Oktober 2011

Wanita Pengobral Cinta

Mereka tak lagi di gang-gang yang meremang.
Mereka tak lagi di sudut-sudut yang tersudut.

Mereka adalah laron-laron yang haus akan penonton.
Mereka adalah cermin kita sebagai manusia.

Jika mereka penyakit, kita-lah yang sakit.
Jika mereka sampah, kita-lah yang limbah.


Semarang,
03:40/061011.

Obrolan Sesama Dunia Ketiga

Sebagai debu aku harus tergulai melunglai.
Menyisir bisikan-bisikan angin yang mendesir.
Terhempas melemas dalam titian-titian ruang yang berang.
Hingga pastinya tergeletak pada jejak-jejak yang mustahil tak terinjak.

Tak usahlah singgah jika wajahmu yang ramah telah memerah.
Jangan pula bersua jika hatimu tak bersurya.
Sebagai debu aku telah lelah menyusuri sudut-sudut arah.
Terlalu letih menyulam alam yang kau diktekan.

Sepanjang pohon hegemoni berhembus aku tak bisa tak tergerus.
Tak mampu menonjolkan dada dengan segala daya tarik yang aku punya.
Sebagai debu aku tak mampu menggoyang kerikil yang membuat kerdil.
Apalagi mencipta angin yang menyehatkan batin.

Bukan rindangnya kapitalis yang menggerakkan si miskin memanen air mata di alis.
Bukan pula rimbunnya sosialis yang membuat jeda sedunya tangis.
Penerimaan sebagai debu-lah yang membuatku gerah jika tak goyah.
Tentu saja ini adalah rekayasa mereka yang merasa paling benar dan berkuasa.

Tak bisakah debu-debu bersatu menjadikan pohon-pohon itu layu?
Tak bisakah jumlah debu yang lebih banyak ini mengkudeta para pemeras bumi?
Tak mungkinkah debu-debu mempunyai kearifan dan kebijakan untuk berperan sebagai khalifah Tuhan?
Kita akan terus mendebu jika kesadaran kita sebagai debu tak juga kita sapu.



Semarang,
01:22/260911.

Benarkah Tuhan Budak Kita?

Lihatlah kita sudah diperbudak oleh apa yang telah kita punya.
Mulai mata terbuka, kita sudah harus menganiaya raga deminya.
Ditengah terjaga, pikiran kita terus diikatnya untuk selalu waspada dan siaga.
Kita juga dibuatnya tak tenang ketika pejaman mata memasuki selimut hangat di ranjang.

Lihatlah kita sudah diperbudak oleh apa yang ingin kita punya.
Berlalu lalang kita diajaknya mengetuk pintu-pintu yang semu.
Hilir mudik mengais-kais singgasana di atas deru tangis.
Menggali secercah sinar yang memusnahkan sumbu-sumbu kehidupan.

Lihatlah!
Kita melihat kita yang sedang diperbudak oleh apa yang sedang kita punya.
Oleh kesesaatan yang mengobral kenikmatan.
Oleh kesesatan yang menawarkan kebenaran.
Oleh kebebasan yang mengobarkan kesenjangan.
Lihatlah kita semakin pintar memintarkan kebodohan dan membodohkan kepintaran.

Lihatlah kita sudah mempoligami Tuhan.
Memberinya hanya sedikit kuasa dalam berumah tangga dengan-Nya.
Menetapkan kewajiban-kewajiban bagi-Nya demi berkembangnya keangkuhan kita.
Menetapkan hak-hak bagi-Nya selama itu menguntungkan kita.

Lihatlah Tuhan telah kita perbudak demi apa yang telah kita punya.
Demi apa yang sedang kita punya.
Demi apa yang ingin kita punya.



Semarang,
11:00/160911.

Aku Ingin Mengenalmu

Aku ingin mengenalmu sebagaimana kau memperkenalkan dirimu.
Sesuci peci yang menempel di empuknya embun-embunmu.
Sesuci kata-kata yang terlontar diselubung janji-janjimu.
Sesuci langkah di belakang jejak-jejak nabimu.

Aku ingin mengenalmu sebagaimana kau memperkenalkan dirimu.
Sekotor comberan yang kau timbun di selangkangan.
Sebusuk bangkai yang kau sembunyikan di balik tirai.
Seburuk noda-noda yang kau tumpuk di dalam dada.

Aku ingin mengenalmu sebagaimana kau memperkenalkan dirimu.
Aku ingin mengenalmu sebagaimana kau mengenal dirimu.
Aku ingin mengenalmu sebagaimana Tuhan mengenal dirimu.
Aku ingin mengenalmu sebagaimana kau memperkenalkan dirimu padaku.




Semarang,
12:53/110911.

Negeri Bocah Antah Berantah

Bocah-bocah itu masih menyangga wajah dengan kedua tangannya.
Di sekitar, lalat-lalat berpantat hijau juga masih berputar-putar.
Menyanyikan firman-firman Tuhan lewat sepasang sayap-sayapnya.
Menabuh-nabuh pori-pori bocah-bocah itu agar menari dalam sengatnya.

Bocah-bocah itu masih menatap atap dapurnya yang belum berasap.
Sesekali melirik ibunya yang tak henti-henti mendendangkan janji-janji.
Sumpah serapah bapaknya serasa ditelinganya kian menyampah.
Malam dan pagi bocah-bocah itu masih tetap menanti.

Bocah-bocah itu masih bersemangat meski mata dan mulutnya telah tampak menguap.
Apakah janji-janji akan membumi?
Apakah sumpah-sumpah akan terbang ke negeri Antah Berantah?
Bocah-bocah itu masih terpaku di bawah pecahan lampu.



Semarang,
00:36/090911.

Antara Kau dan Kita

Jangan bilang kau tak tahu yang kami mau.
Kami tahu matamu terbentang di permukaan bumi.
Kami tahu telingamu terjepit di hamparan langit.
Kami tahu lidahmu menggelayut di buih-buih laut.
Kami tahu kulitmu tercecer di ruas-ruas atmosfer.
Kami tahu hidungmu mengambang di arak-arakan awan.
Kami tahu kau tahu yang kami mau.

Jangan bilang kau tak mengerti yang kami ingini.
Kami yakin akalmu hanya sedang tersandung di mendung.
Kami yakin hatimu hanya sedang tertimbun kasur.
Kami yakin jiwamu hanya sedang terpejam karena demam.
Kami yakin kau mengerti yang kami ingini.

Jangan bilang sesuatu jika memang kau tak mampu.
Diammu sudah menghabiskan berbuku-buku.
Melahirkan komentar-komentar yang tak cukup direkam.
Memunculkan gerakan-gerakan yang menghiasi jalanan.
Menimbulkan pesona sekaligus kemuakan yang menggelakkan.
Kau tak perlu bilang sesuatu.

Jangan bilang apa-apa jika memang kau benar-benar lupa.
Kau tahu bahwa kami sangat tak suka pada pendusta.
Kau tahu bahwa kami sangat membenci pengobral janji.
Kau tahu bahwa kami begitu marah jika ada yang terfitnah.
Kau tahu bahwa kami begitu murka jika ada uang teraniaya.
Kau tak usah bilang apa-apa.




Semarang,
17:45/140911.

Senjakala Dunia

Kalau tidak salah, itulah senja yang berkelebat di depan rumah.
Mengintip dan membekaskan sinar-sinar lewat kaca jendela yang pecah.
Membacakan mataku yang rabun pada sirkus-sirkus dan opera-opera sabun.
Menjanjikan datangnya pagi yang pasti akan bersilaturrahmi.

Kalau tidak salah, itulah senja yang menampakkan mega di telapak surga.
Menghiasi bumi dengan sejuta bidadari.
Mengalirkan telaga di taman yang penuh dengan tanaman.
Mengantarkan mahligai kenikmatan yang belum pernah terbayangkan.

Kalau tidak salah, itulah senja yang merekahkan keheningan.
Merenggut mimpi anak-anak untuk bermain layang-layang.
Menodai gadis-gadis diambang kedewasaan.
Mencuri nyawa-nyawa orang tua yang menanggung keluarga.
Mendidik para manula untuk menggali kuburnya.

Kalau tidak salah, itulah senja yang kita sapa.
Berat suaranya menggelindingkan kata.
Berat nafasnya menghembuskan asa.
Berat langkahnya menggayuh cita.
Berat sikapnya mengangkangi dunia.



Semarang,
19:10/130911.

Utopia Peradaban

Jalan-jalan tampak lengang.
Tak ada lagi musik-musik keprihatinan.
Tak ada lagi suara-suara sumbang.
Tak ada lagi kebohongan yang tersimpan.
Tak ada lagi kemunafikan yang bersemayam.

Jalan-jalan tampak sepi.
Tak ada lagi virus-virus nurani.
Tak ada lagi akal-akal yang terjeruji.
Tak ada lagi nafsu-nafsu yang terbirahi.
Tak ada lagi hati-hati yang terkontaminasi.
Tak ada lagi jiwa-jiwa yang tak suci.

Jalan-jalan tak tampak basah.
Tak ada lagi jeritan keluh kesah.
Tak ada lagi bisik-bisik yang meresah.
Tak ada lagi ringikan yang mendesah.
Tak ada lagi teriakan yang menjarah.
Tak ada lagi tragedi-tragedi yang menyejarah.

Jalan-jalan tak tampak terjal.
Tak ada lagi lubang-lubang pada kesadaran.
Tak ada lagi gundukan-gundukan kematian.
Tak ada lagi pepohonan yang melenakan.
Tak ada lagi huru-hara yang merisaukan.
Tak ada lagi duri-duri yang menusuk harga diri.



Semarang,
23:23/130911.

Semburan Lalat

Lalat-lalat itu masih menyemut berjajar
Berharap, sekepal kesombongan singgah menyasar
Berharap, melumpuhnya riya'-riya' yang mengakar
Berharap, memamah kemunafikan yang memancar

Lalat-lalat itu masih menyemut berjajar
Berbisik dan bersua di jalur-jalur kemenangan
Menyisakan ludah-ludah di titik-titik persembahan
Meniscayakan vertikal dan horisontal tak lagi padu padan

Lalat-lalat itu masih meyemut berjajar
Terasing diantara celah-celah ketamakan
Terpencil pada pulau-pulau ratapan
Tersisih dari ember-ember pengharapan
Tertimbun oleh mendung yang tak pernah lagi berhujan

Lalat-lalat itu tak lagi menyemut berjajar
Lantang menantang orbit kehidupan
Saling patuk dengan kunang-kunang
Saling hisap dengan nyamuk-nyamuk di puncak-puncak kebosanan
Saling tubrukan di dunia yang kian tak karuan


Semarang,
20:27/190811.

Kidung Mayat

Selalu mendung yang aku dapati di atapmu
Gelap
Sepekat jubahmu tatkala mega menyingsing
Kapankah peti ini kau huni?

Selalu murung sketsa-sketsa yang tergambar di wajahmu
Angker
Layaknya bau menyan di altar
Kapankah kain kafan membalutmu terlentang?

Diamlah!!!
Cerutuku sedang mengasap memanggil mayat-mayat
Mengundang mereka pesta di padang Laknat
Menyulut neraka supaya terbakar
Hingga tak ada lagi kabar siksa dan derita yang terdengar
Selalu saja kidung itu yang mengalun di derai matamu yang terkulum



Semarang,
23:19/220811

Kehidupan Untuk Kehidupan

Marilah mencari lubang-lubang yang merapuhkan
Mencari sumbatan-sumbatan yang mengerdilkan
Menambal dan mengurainya untuk kehidupan

Marilah menatap langit yang bukan langit-langit
Mancari sinar yang benar-benar sinar
Berteduh dan berjemur untuk kehidupan

Marilah mencari diri sendiri dalam diri sendiri
Menyekanya dari makna-makna yang berunjuk rasa
Memilahnya dari arti-arti yang berunjuk gigi
Menyaring dan menyerapnya untuk kehidupan

Marilah mencari pijakan diantara sekian banyak pijakan-pijakan
Meyakininya serta merta dalam diri yang sangat peka
Mendarah dagingkannya pada jiwa yang terus saja menganga
Memasukkannya dan menggelantungkan kunci-kuncinya pada inspirasi-inspirasi suci



Rembang,
00:51/050911.

Sajak-sajak Angkuh

Sudah hampir pukul dua malam.
Sajak-sajakmu belum juga aku temukan.
Sesulit aku memahami perempuan yang terkapar di ranjang.
Apakah karena matriarkal?
Atau hanya sekedar mengusir lapar dengan gaya ala popular?

Aku masih menyimak mulutmu disaat-saat akhir hayatmu yang telanjang.
Sajak-sajakmu terukir abstrak dalam genggaman bir di surau sebuah bar.
Keras eranganmu terdengar buyar saat hampir pukul dua malam.
Persis seperti adzan yang beberapa jam lagi akan berkumandang.
Sudah hampir pukul dua malam.

Sajak-sajakmu belum juga aku temukan.
Lontar-lontar bertebaran merakit titik-titik kejenuhan.
Menyuarakan alam yang kian terbenam.
Menggunjingkan manusia yang tak hentinya ternoda.
Menanyakan Tuhan yang sering diperdebatkan.

Sajak-sajakmu harusnya telah muncul pada tiap-tiap tetesan peluh.
Mendesah dan melenguh sebagaimana kau bersetubuh.
Bukannya mengangkuh seperti seorang musuh.
Bukannya mengeluh pada air-air keruh yang sedang aku seduh.
Aku pun sudah rapuh jika sajak-sajakmu aku temukan di waktu shubuh.



Rembang,
01:50/290811.